“Masa lalu kita memang jaya, tapi masa depan kita bisa jauh lebih gemilang!” Itulah kurang lebih pesan yang disampaikan oleh para pembicara dalam acara TALKSHOW “The Wisdom of Sundaland” pada pukul 19.00 – 21.00 WIB Jumat/5 Oktober 2012, di gedung Landmark Braga yang digelar dalam perhelatan Pameran Buku Bandung 2012.
Buku “The Wisdom of Sundaland” karya Anand Krishna ini memang berkisah banyak tentang kisah-kisah masa lalu Nusantara, mencoba untuk belajar dari masa lalu Nusantara agar mampu menyongsong masa depan yang lebih gemilang. Ditambah dengan jajaran pembicara kelas wahid seperti Pak Tjetje Padmadinata (sesepuh Sunda), Dian Martin (technopreneur), Maya Muchtar (generasi muda Sunda), talkshow yang dimoderatori oleh Haryadi ini berlangsung semarak dengan kehadiran lebih dari 100an peserta.
“Kenapa sih orang Sunda identik dengan kata santai dan malas? Mungkin karena alamnya kaya sehingga tidak perlu bekerja keras,” demikian tutur Kang Dian Martin. Tak heran sering muncul kata-kata: “Hoream, ah!”
Seolah mengamini Kang Dian, Pak Tjetje menuturkan tentang orang Sunda yang cenderung santai. Contohnya adalah saat Muhammad Yamin mengganti penamaan Kepulauan Sunda Besar (Greater Sunda) dan Sunda Kecil (Lesser Sunda). Muhammad Yamin mengganti nama kepulauan Sunda Kecil dengan nama Nusa Tenggara. “Dan saat itu tidak ada satupun orang Sunda yang protes! Saat itu saya masih sekolah dan tidak paham, seandainya saya sudah terjun ke politik, pastilah saya akan protes.”
Menurut Pak Tjetje, Sundaland yang dibicarakan dalam buku “The Wisdom of Sundaland” adalah Tanah Sunda yang luas, meliputi seluruh Asia Tenggara, suatu peradaban yang besar. Tetapi janganlah terbuai dengan kejayaan masa lalu, kata Pak Tjetje sambil mengutip pepatah Sunda, “Melihat ke belakang sejengkal, melihat ke depan sedepa”.
Senada dengan Pak Tjetje, Ibu Maya Muchtar yang berprofesi sebagai terapis, mengiyakan bahwa untuk mengatasi sebuah masalah, tentunya kita harus mengetahui akarnya. Demikian pula dengan bangsa ini, bila ingin menyongsong kegemilangan, tentunya harus dimulai dengan mempelajari sejarah bangsa dan mengatasi dari asal muasal masalah.
Buku “The Wisdom of Sundaland” ini memang sangat disarankan untuk para pembaca yang ingin tahu tentang peradaban kuno Nusantara dan mempelajari kearifan luhur yang selama ini mulai terlupakan. Ingat bahwa “Masa lalu kita memang jaya, tapi masa depan kita bisa jauh lebih gemilang!”.
Apresiasi hadir dari peserta yang bertanya. Salah satunya adalah Ibu Tia yang mengungkapkan keinginan untuk bertemu dengan Pak Anand yang telah menginspirasi lewat buku-buku. Kang Oca, salah satu tokoh Sunda yang disegani, juga mengungkapkan “saya belum punya bukunya tapi ingin segera beli karena isinya pasti luar biasa, jika mendengarkan dari para pembicara.”
Talkshow malam tersebut memang menumbuhkan kebanggaan sebagai manusia Sunda, sebagai manusia Nusantara. Apresiasi layak kita sematkan pada seorang Anand Krishna, yang berusaha membangkitkan semangat ini.
Reportase : Haryadi – Photo : Prabu Dennanga



