Liputan6.com, Denpasar: Keberagaman agama dan budaya di Indonesia kerap membuat perpecahan bahkan permusuhan yang akhirnya memakan korban. Masalah itu rupanya mengusik perhatian Anand Krishna. Melalui gerakan Anand Ashram and National Integration Movement yang berafiliasi dengan PBB, dia memiliki apresiasi terhadap keberagaman agama.

Yayasan spiritual ini sengaja didirikan pria kelahiran Solo, Jawa Tengah. Anand menamatkan pendidikan dasar di India tapi memperoleh gelar MBA di Universitas Pasific Southern Amerika Serikat. Saat usianya menginjak 35 tahun dia terkena penyakit leukemia stadium lanjut yang nyaris merenggut nyawanya. Penyakit ini sembuh secara misterius oleh seorang tabib di pegunungan Tibet, Himalaya. Setelah sembuh dari penyakitnya, Anand kemudian memutuskan untuk membaktikan sisa hidupnya bagi perdamaian dan cinta kasih.

Di taman yang dinamakan secret garden inilah representas keberagaman umat beragama terllihat. Salah satu kegiatan yang dilakukan aktivis Anand Ashram di kawasan Kuta, Bali, adalah bernyanyi dengan riang lagu-lagu yang menghargai keberagaman beragama. Tapi kegiatan paling utama yayasan ini adalah meditasi dan yoga.

Dengan meditasi setiap umat beragama bisa berdoa dengan khusuk. Bertemu dengan sang khalik secara pribadi dan membuang segala emosi. Seperti yang dirasakan Maya Safira yang masa kecilnya sempat menghadapi trauma pelecehan seksual.

Lewat yayasan ini Anand menyebarluaskan sifat saling peduli dan cinta kasih yang diimplementasikan dengan gerakan national integration movement. Rasa kasih dan harmoni dengan alam ini ingin terus dilaksanakan oleh Anand yang masih memiliki impian mendirikan sekolah untuk anak-anak yang mengedepankan nilai-nilai persamaan.

Jalan untuk menciptakan perdamaian memang harus dimulai dari komunitas seperti ini. Mengapresiasi nilai-nilai perbedaan harus dilakukan agar tidak ada lagi rasa permusuhan diantara kita.(IAN/Putu Setiawan)

– http://www.liputan6.com/news/?id=166071