(Dari kiri ke kanan Pembicara Anand Krisna, Dr. Philipus Tule SVD, dan moderator Dr. Paul Budi Kleden, SVD)

Pada hari Sabtu 11 Februari 2012, untuk memaknai dan merayakan United Nations’ Interfaith Harmony Week 2012,  Sekolah Tinggi Filsafat Katolik(STFK) Ledalero menyelenggarakan seminar nasional bertema “Peran Agama-Agama dalam Membangun Indonesia yang Multikultural”. Hadir sebagai pembicara adalah Anand Krishna dan Dr. Philipus Tule, SVD serta Dr. Paul Budi Kleden, SVD, sebagai moderator.

Dalam komentar pengantarnya, moderator Dr. Paul Budi Kleden, SVD, mengaitkan tanggal 11 Februari yang ditetapkan Gereja Katolik sebagai Hari Untuk Mendoakan Orang Sakit Sedunia dengan tema seminar hari itu. Pengajar  Ia mengatakan bahwa bangsa Indonesia maupun dunia dalam keadaan sakit yang salah satu penyebabnya adalah ketidakharmonisan hubungan antar agama. Bahwa agama acapkali dijadikan alat legitimasi tindakan kriminal yang menyebabkan penderitaan di pihak lain.

Pembicara pertama, Dr. Philipus Tule, SVD, membawakan makalah berjudul “Agama-Agama di Indonesia Menghadapi Tantangan Radikalisme dan Globalisasi”. Ia mengatakan bahwa radikalisme ada dalam setiap kelompok agama seperti Islam, Kristen, Hindu, dan merupakan tantangan bagi kerukunan antar umat beragama, penghambat kemajuan, perdamaian dan kesejahteraan di Indonesia maupun dunia.

(Anand Krishna bersama para mahasiswa STFK Ledalero dan seorang wartawan)

Dalam paparannya Pater Lipus menyajikan data persentase komposisi jumlah penganut agama-agama di Tanah Air dimana 85% orang Indonesia menganut agama Islam. Sedangkan Potestan 5%, Katolik 3%, Hindu 2%, Budha 1% dan lain-lain 1%. Namun, meskipun jumlah penduduk Muslim adalah yang terbesar tapi Indonesia bukanlah Negara Islam.

Doktor Islamologi lulusan Kairo itu menggarisbawahi pentingnya membangun keasadaran akan kemajemukan dalam terang falsafah Pancasila. Sehingga meski terdiri dari berbagai agama dan suku bangsa besar ini tetap hidup rukun dan harmonis. Namun ia mengakui bahwa keharmonisan akhir-akhir ini dicederai oleh banyaknya aksi-aksi radikalisme agama.

Lebih lanjut ia menguraikan bahwa radikalisme berasal dari kata radiks yang berarti kembali ke akar, yang mengandung makna bahwa semua agama seharusnya kembali ke akarnya yaitu kitab suci sebagai wahyu. Sebaliknya penganut agama tidak memutlakan teologi yang merupakan tafsiran atas teks kitab suci. Sebab bila memutlakan teologi dan mempersamakannya dengan kitab suci atau wahyu maka lahirlah radikalisme dengan dampak destruktif yang ditimbulkannya.

Pihak STFK, katanya, telah berupaya membangun relasi dengan kelompok agama lain. Hal ini ditandai dengan pengiriman para frater (calon pastor) ke pesantren-pesantren yang ada di Indonesia. Ia juga mengisahkan pengalaman di kampungnya dimana kaum kerabatnya yang beragama Islam menenun pakaian upacara para pastor, dan itu telah berlangsung lama hingga saat ini.

Anand Krishna, spiritualis dan aktivis interfaith Indonesia, mengawali pembicaraannya dengan mengatakan bahwa sebelum ke tempat seminar ia berkunjung ke kediaman Uskup Maumere, dan meminta berkat dan doa Bapak Uskup agar acara seminar dalam berjalan dengan baik. Bahwa ia tidak mengagumi bangunan gereja yang megah tetapi hati yang luas dan jiwa-jiwa yang megah dalam diri orang Katolik di Flores yang sangat apresiatif terhadap perbedaan. Asal tahu saja, dalam pertemuan singkat itu Anand Krishna menghadiahi Uskup Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, dengan sebuah buku tulisannya berjudul “Sabda Pencerahan”.

Selanjutnya  kolumnis dan penulis lebih dari 150 buah buku itu memaparkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan pulau terbanyak di dunia dan persatukan oleh kebijaksanaan lokal yang tertera dalam moto Bhineka Tunggal Ika. Menurut Anand Bhineka Tunggal Ika harus diterjemahkan sebagai Appearing As Many, Essentially One—Tampaknya Banyak, Tapi Secara Hakikat Satu. Bahwa, misalnya, meski menganut agama berbeda-beda tapi pada dasarnya bertujuan satu dan sama yaitu Tuhan.

Oleh karena itu, demikian Anand, dalam relasi antar agama hendaknya mulai dan menyebarluaskan istilah apresiasi daripada toleransi. Karena toleransi masih terkandung kengkuhan, perasaan terhadap agama yang dianut lebih baik dan paling benar namun masih mentolerir agama lain. Sebaliknya apresiasi mengandung penghargaan dan hormat serta pengakuan terhadap agama lain sebagai jalan berbeda menuju Tujuan Yang Satu Dan Sama.

Anand menekankan bahwa pendidikan menjadi kunci. Ia secara eskplisit menganjurkan pendidikan sekuler dimana sejak dini dengan pelajaran budi pekerti di sekolah, dimana anak-anak diajarkan untuk mengapresiasi nilai-nilai dan sejarah agama-agama yang ada di Indonesia. Selama ini, di sekolah-sekolah,  anak-anak dikotak-kotak pada saat pelajaran agama masing-masing. Agama, berikut akidah dan teologinya, menjadi urusan di  mesjid, gereja, vihara atau diajarkan oleh orang tua, ustad dan pastor.

(Ketua Sekolah STFK Ledalero, P.Bernard Raho, SVD bersama Anad Krishna dan dr.Wayan Sayoga)

Anand mengakhiri pemaparannya tentang keanekaragaman agama di Indonesi dengan mengemukan sebuah analaogi yang menarik. Keberagaman, katanya, harus merupakan gado-gado, bukannya dipaksa melebur menjadi jus. Sebab, gado-gado merupakan campuran banyak sayuran namun tetap kelihatan wujudnya masing-masing walau telah tercampur dan rasanya semakin enak ketika direkatkan dengan adonan saos kacang sebagai bumbu kasih. Sedangkan dalam jus bentuk dan rasa asli buah-buah lenyap ketika disatukan dalam mesin blender.

Analogi Anand Krishna tentang relasi agama-agama sebgai gado-gado mengilhami moderator Pater Budi Kleden dalam kesimpulannya. Menurutnya, agama dan perut merupakan dua hal yang menjadi konflik dan membawa korban. Mengatasnamai agama karena kebutuhan perut orang bisa bertindak kriminal. Sebagai penutup ia mengajukan pertanyaan reflektif, “Apakah agama-agama di Indonesia mampu menciptakan situasi sehingga masalah perut bisa diatasi?”.

Seminar yang merupakan kerja sama STFK Ledalero dan Anand Ashram itu dihadiri sekitar 800 orang. Sebagian peserta adalah mahasiswa filsafat (S1) dan teologi (S2) STFK Ledalero. Hadir juga aktivisi PMKRI dan BEM Universitas Nusa Nipa Maumere, tokoh Islam, Hindu, Protestan, ibu-ibu dari Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Sikka, anggota DPRD kabupaten Sikka serta masyarakat umum. Rektor STFK Ledalero dan Universitas Nusa Nipa juga turut hadir.

(Elis sibuk melayani para pembeli buku Anand Krishna)

Pada kesempatan tersebut pihak Anand Ashram menggelar buku-buku tulisan Anand Krishna. Demikian pula Penerbit Ledalero yang menjual buku-buku bagus tulisan para pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat satu-satunya di NTT itu. Buku-buku Anand Krishna laris manis bahkan banyak peserta yang kecewa karena persediaan buku dan baju kaus yang terlalu sedikit. Buku-buku seperti Sabda Pencerahan, Soul Quest, Life, Christ of Kashmiris, A New Christ, Sandi Sutasoma, Sehat Dalam Sekejap, Be Happy, Seni Memberdaya Diri 1 & 2 habis terjual. Antusiasme peserta pun bertambah karena Anand Krishna  dengan sabar menandatangani semua buku dan baju kaus yang dibeli.

(Reportase : Dominggus Koro – Fotografer: Nando Watu)