Jakarta, 6 November 2011 – “Lahirnya buku ini saya sambut dengan senyuman dan ironi, ironi karena hal semacam Karma Yoga ini sebenarnya hal yang sangat dekat dengan bangsa ini, tapi terlupakan sampai tokoh seperti Bapak Anand Krishna harus menulis buku ini untuk mengingatkan kita semua tentang nilai-nilai luhur Karma Yoga!” demikian salah satu komentar Bapak Muhammad AS Hikam dalam acara Bedah Buku Karma Yoga “Etos Kerja Transpersonal bagi Orang Modern” yang diadakan di Gramedia Matraman, pukul 14.00 – 16.00 WIB.
Dari awal, acara yang terselenggara berkat kerjasama antara Yayasan Anand Ashram (yang berafiliasi dengan PBB), Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Toko Buku Gramedia Matraman, dan The Hikam Forum ini, sudah dimulai dengan cukup unik. Berbeda dari kebiasaan formal dalam bedah buku umumnya, acara dibuka dengan lagu-lagu yang menggebrak namun menyentil. Ada lagu berjudul “Damai Indonesia” dengan irama sengko-sengko Batak, “Cintailah semua makhluk”, dan “Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia” dengan irama Selayang Pandang seolah menegaskan tujuan diadakannya bedah buku Karma Yoga ini, yaitu menyebarkan dan mengaplikasikan nilai-nilai Peace, Love, and Harmony dalam kehidupan.

(Para Pembicara)
Dipandu oleh moderator Dian Martin, dengan pembicara-pembicara berkelas, yaitu Bapak Mohammad AS Hikam (Menristek 1999 – 2000), Ibu Ida Ayu Utami Pidada (Mantan anggota DPR RI), Mas Muhammad Guntur Romli (Aktivis), serta sang penulis buku Karma Yoga, Bapak Anand Krishna, acara ini menyedot 200an orang, memenuhi Function Room Gramedia Matraman. Fenomena yang membahagiakan menurut Mas Guntur Romli, “ternyata aktivitas intelektual yang mencerahkan, tidak kontradiktif dengan aktivitas keagamaan (Idul Adha)”, demikian komentarnya.
Bedah buku berlangsung seru karena masing-masing pembicara mengupas dari perspektif yang saling komplementer, dan makin memperkaya isi dari buku Karma Yoga. Mas Guntur Romli membahas dari segi pemahaman beliau tentang Islam, dimana banyak sekali surah dan hadits yang menekankan tentang pentingnya berkarya tanpa pamrih. Menurut Mas Guntur Romli, “buku Karma Yoga ini sebenarnya tidak perlu terlalu dibedah karena yang paling penting adalah aplikasinya”.
Pak AS Hikam menyoroti surutnya nilai-nilai karma yoga, nilai-nilai “rame ing gawe, sepi ing pamrih” dalam bangsa Indonesia, bangsa yang sebenarnya sudah kenal dekat dengan nilai-nilai ini. “Sampai-sampai tokoh sekelas Pak Anand harus menulis buku ini untuk mengingatkan kita. Saya yakin buku ini akan menginspirasi gerakan moral untuk memperbaiki bangsa seperti gerakan Occupy Wall Street yang lahir untuk mendobrak kerusakan akibat kapitalisme,” komentar Bapak AS Hikam. Bapak AS Hikam juga mengingatkan bahayanya “salah paham dan paham yang salah” yang belakangan makin marak terjadi di Indonesia. Beliau menyoroti betapa nilai-nilai nilai-nilai gotong royong dan tanpa pamrih ini makin luntur ketika didesak dengan kenyataan fanatisme agama dan kelompok, yang membuat jurang-jurang perbedaan makin lebar.

(Peserta Yang Hadir)
Ibu Utami Pidada lebih mengupas dari segi kesadaran berbangsa dan bernegara, yaitu betapa bobroknya sistem politik dan ekonomi Indonesia saat ini. Hilangnya nilai-nilai luhur karma yoga, nilai-nilai “rame ing gawe, sepi ing pamrih” telah menjadikan politisi kita bekerja demi uang, demi pribadi dan kelompok, bukan lagi untuk kepentingan luas. Namun Ibu Utami Pidada dengan enerjik menantang para hadirin untuk mendobrak hal ini dan menciptakan Indonesia yang lebih baik. “Bagaimana caranya? Dengan semangat! Pulang ke rumah, baca, dan terapkan isi buku Karma Yoga!” yang disambut dengan tepukan meriah dari hadirin.
Bapak Anand Krishna berbagi pemahaman beliau tentang Karma Yoga lewat presentasi yang dikemas dengan sangat apik. Beliau menunjukkan sekian banyak kutipan dari tradisi berbagai agama yang menganjurkan semangat karma yoga, semangat “rame ing gawe, sepi ing pamrih”. “Tidak berarti ketika bekerja, tidak dapat pamrih. Menurut saya pamrihnya tetap ada, tetap ada balasan untuk karyanya, tetapi pamrihnya sepi, tidak seramai gawenya, karyanya”, demikian menurut beliau.
Sesi tanya jawab pun berlangsung cukup seru. Hal yang luar biasa adalah para penanya semuanya menunjukkan rasa greget mereka. Semuanya merasakan ada yang tidak beres dengan masyarakat saat ini, nilai-nilai karma yoga sudah luntur, dan bagaimana untuk mengubahnya? Bagaimana untuk berkarya? Bagaimana untuk menciptakan mentalitas berbagi?

(Tanya – Jawab Dengan Peserta)
Semua pembicara dengan gayanya masing-masing menekankan pentingnya praktek dan terus berkarya. Bapak Anand Krishna bahkan memberikan satu presentasi tentang Food Crisis (http://www.facebook.com/photo.php?v=209734802428183), tentang pentingnya menghargai makanan sebagai inspirasi bagaimana melakukan Karma Yoga, bagaimana berkarya tanpa pamrih dengan hal yang paling sederhana yaitu “marilah kita berjanji pada diri kita masing-masing untuk tidak menyia-nyiakan makanan!”
Dimulai dengan semangat dan diakhiri dengan contoh aplikasi praktis dari Karma Yoga, sungguh diskusi ini benar-benar luar biasa! Bedah buku ini telah diadakan di Jogja, Denpasar, Singaraja, dan kali ini Jakarta. Jadi, kota mana lagi berikutnya?
Photo By : Prabu Dennaga – Articles By Aiu Haryadi

