full screen background image
Search
Wednesday 20 November 2019
  • :
  • :

Siaran Pers: Sarasehan Warga Bumi “Budaya Nusantara: Kesatuan di Balik Perbedaan”

Sarasehan Warga Bumi

“Budaya Nusantara: Kesatuan di Balik Perbedaan”

 

Ciawi, Bogor–Bertepatan dengan Perayaan Hari Bhakti Ibu Pertiwi yang ke-15, Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) beserta seluruh sayapnya menyelenggarakan Sarasehan Warga Bumi “Budaya Nusantara: Kesatuan di Balik Perbedaan”. Secara konsisten, Yayasan Anand Ashram selalu memperingati Hari Bhakti bagi Ibu Pertiwi sejak dicanangkan oleh Menteri Pertahanan Dr. Juwono Sudharsono pada tanggal 1 September 2005, dimana para narasumber diharapkan bukan hanya berbagi pengalaman dan filosofi hidup berdasarkan nilai-nilai luhur budaya masing-masing, tetapi juga menemukan benang merah yang dapat menyadarkan kita semua bahwa kita hidup di atas Satu Bumi, bernaung di bawah Satu Langit dan kita Satu Umat Manusia.

 

 

Disampaikan oleh Dr. Muhammad AS Hikam, APU., untuk melihat kesatuan dalam perbedaan, beliau belajar dari kedua orang tua beliau untuk mengelola segala perbedaan yang ada sehingga selalu bisa menempatkan diri. Kang Oca, arsitek dan pemerhati budaya dari Lembaga Adat Kraton Padjajaran, memaparkan tentang Sundaland sebagai asal muasal DNA nenek moyang manusia, dan kita wilayah Nusantara merupakan pewaris dari peradaban tertua. Engkus Ruswana, dari Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia, menekankan nilai- nilai unggul dalam budaya-budaya kuno di seluruh dunia – bersumber dari satu induk yang sama, memiliki satu benang merah yaitu, Alam dan Manusia tidak dapat dipisahkan dan kita selalu diingatkan dan diajari untuk senantiasa selaras dengan alam.

Ditutup dengan paparan Bapak Anand Krishna, bahwa Peradaban Indie, Indos, Hindie, Indus, Shin-tuh, Sindhu atau Peradaban Sunda yang diperkirakan telah berumur setidaknya 8,000- 12,000 tahun ini adalah satu-satunya peradaban dunia yang masih hidup dan berkembang sampai hari ini. Al Beruni bahkan menyebutkan dalam bukunya wilayah-wilayah di balik sungai Sindhu, seluruhnya disebut sebagai Sindhu. Dan para akademisi seperti Prof. Dr. Denys Lombard, Andrik Purwasito D.E.A, D.G.E. Hall, dan Coedes membenarkan beliau dan menggambarkan Nusantara termasuk wilayah Peradaban Indie, Indos, Hindie, Indus, Shin- tuh, Sindhu – yang juga mencakup Afganishtan, Iran, anak benua India, Indocina, Malaysia, Filipina – yang saat ini sudah terbukti sebagai peradaban tertua di dunia. Kiranya dengan luas pengaruhnya serta usianya, Peradaban Sunda ini disebut sebagai Peradaban Warga Bumi.

Selain membahas Budaya Nusantara, juga telah dilaksanakan peresmian Macan Siliwangi, simbol penjaga Budaya Nusantara serta penganugerahan penghargaan bagi para insan yang telah bekerja tanpa pamrih dalam Bhakti bagi Ibu Pertiwi. Diikuti tidak kurang dari tigaratus orang dari kalangan lintas budaya, agama, lintas generasi dan berbagai latar belakang, mulai dari budayawan, pendidik, pelajar, seniman, komunitas budaya, mahasiswa dari berbagai wilayah mulai Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Malaysia, China dan Spanyol.

Contact Person: Joehanes Budiman (087881100128)