full screen background image

Siaran Pers: Bincang Budaya

Siaran Pers

Bincang Budaya

Asta Brata: Pedoman Luhur Kepemimpinan Nusantara untuk Manusia Modern

 

Jakarta, 15 Desember 2018 – Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) bekerjasama dengan Museum Bank Indonesia menyelenggarakan Bincang Budaya “Asta Brata: Pedoman Luhur Kepemimpinan Nusantara untuk Manusia Modern” dengan menghadirkan Anand Krishna, humanis spiritual dan penulis produktif lebih dari 170 buku, dan Peter Carey, sejarawan sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Asta Brata atau Ashta Vrata adalah pedoman luhur kepemimpinan khas Nusantara yang masih relevan hingga hari ini. Versi paling awal dari Asta Brata dapat ditemukan dalam Manusmriti atau Manava Dharma Sastra – “Pedoman Hidup Mulia bagi Manusia” yang disusun oleh Resi/Pemikir Manu sekitar 5000-an tahun yang lalu.

Menurut Anand Krishna, salah satu keunikan dari Asta Brata adalah beragamnya versi yang tersedia yang terus disesuaikan untuk menjawab tantangan kontemporer di tiap masa penulisan versi tersebut. Versi yang lebih populer di Nusantara adalah hasil susunan Mpu Yogishwara yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 870 M. Versi terakhir adalah versi Keraton Surakarta yang dipopulerkan oleh Sri Pakoe Boewono III (1732-1788).

Acara ini merupakan rangkaian dari berbagai kegiatan yang diadakan oleh Yayasan Anand Ashram dalam rangka mengingatkan keluhuran budaya warga bumi, diantaranya adalah seminar-seminar di beberapa universitas di Jawa dan Bali; pendirian Samskriti Sindhu: Museum of World Culture yang telah diresmikan oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika pada tanggal 14 Januari 2018; dan Simposium Budaya “Nilai-nilai Luhur Warga Bumi – Harapan bagi Masa Depan Manusia” pada tanggal 1 September 2018 yang dibuka oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sebagaimana disebutkan oleh Anand Krishna, dalam buku “Sindhu Samskriti” bahwa “Nilai-nilai unggul dalam budaya-budaya kuno di seluruh dunia – bersumber dari satu induk yang sama. Bahkan kata Indigenous bagi Pribumi atau Warga Bumi, dalam bahasa Inggris yang berasal dari Latin pun merujuk pada (wilayah Peradaban) Indie, Indos, Hindie, Indus, Shin-tuh, Sindhu.” Wilayah Peradaban Warga Bumi ini mencakup Afganishtan, Iran, anak benua India, Indocina, Malaysia, Filipina, serta Nusantara.

Bincang Budaya ini terbuka untuk umum dan akan diikuti oleh kurang lebih seratus dua puluh orang dari kalangan lintas budaya, agama, lintas generasi dan berbagai latar belakang, mulai dari budayawan, pendidik, pelajar, seniman, komunitas-komunitas, mahasiswa dari Jakarta dan sekitarnya.

 

Contact Person: Joehanes Budiman (087881100128)