full screen background image

SHARING DEWI HARIRI

Teman-teman terkasih,

2 minggu yang lalu, tepatnya tgl 12 April 2003, seorang teman kami dari Ashram yang bernama Hariri mengalami serangan stroke di One Earth. Di bawah ini saya cantumkan “sharing” pengalamannya Dewi, yaitu istrinya Hariri. Saya mengenal baik Dewi dan selama ini saya mengikuti perkembangan dari pada Dewi dan Hariri pasca serangan strokenya Hariri. Semoga “sharing”nya Dewi akan menjadi sebuah perenungan hidup untuk teman- teman terkasih.

Selama mengikuti seluruh kejadian Hariri, di situ saya menyadari bahwa walaupun sudah bermeditasi bukan berarti kita terbebaskan dari segalanya dan tidak memperhatikan tubuh fisik lagi. Tetapi kita harus bertanggung jawab atas setiap langkah yang kita ambil.Sayapun turut menyaksikan bagaimana besarnya kasih dan perhatian Guruji Anand Krishna kepada muridnya. Saya merasa beruntung sekali dan bersyukur kepada Keberadaan yang telah mempertemukan saya dengan Guruji. Peristiwa ini benar-benar menambahkan keyakinan saya terhadap besarnya kasih seorang Murshid
terhadap muridnya. Keyakinan itu pulalah yang membantu Hariri dalam proses penyembuhannya dan yang memberikan Dewi kekuatan. Gujui, Terima Kasih….sembah sujudku padaNya yang bersemayam di dalam dirimu. Sembah sujudku padaMu Guruji….

love and peace,
maya pachner


Waktu hari Sabtu tanggal 12 April 2003, pada saat acara Sufi Mehfil di One Earth, Hariri mengalami serangan stroke yang cukup berat. Ketika itu acara baru saja selesai dan kami sedang mempersiapkan makan malam, tiba-tiba seorang teman, Sulaeman memanggil saya dan mengatakan : ‘mbak, dipanggil mas Hariri…’, lalu saya bertanya : ‘Dimana.?.. sambil terheran karena tidak biasanya Hariri demikian, ‘dikamar….’ katanya lagi. Sambil bertanya2 saya menuju kamar dan mendapati Hariri sudah terbaring sendirian ditempat tidur dikamar Tara dengan pakaian basah dan kondisi tubuh yang lumpuh sebelah dari muka sampai kaki. Saya agak kaget sejenak namun berusaha tenang dan juga menenangkan dia pada saat dia bertanya apa yang sedang terjadi dan mengapa tubuhnya seperti ini dengan suara ‘pelo’. Dia bertanya kenapa air liurnya terus mengalir dan tidak bisa dia tahan karena mulutnya memang miring. Saya mengatakan padanya :’ Gak apa2 Ri…kamu kena stroke…tenang saja kita akan bawa kerumah sakit dan diobati…kamu gak usah kuatir dan pikir apa2..coba kamu tarik nafas panjang dan buang nafas pelan-pelan……’. Lalu saya kebawah lagi untuk menemui cik Lini dan membisikinya bahwa Hariri kena stroke dan saya juga membisiki Oce untuk minta tolong mengantar kerumah sakit.

Saya kembali lagi kekamar bersama cik Lini dan Shinta K untuk melihat Hariri. Cik Lini langsung memberitahu Guruji, Bpk Anand Krishna, sementara saya menggantikan pakaian Hariri yang basah. Bapak segera datang dan mengusap wajah Hariri dan seketika mulut Hariri yang miring langsung lurus kembali dan beliau mengatakan : ‘..sudah tidak apa2 dan sekarang pergi ke rumah sakit yang terdekat…’. Masih dalam keadaan heran, bersyukur atas pertolongan pertama beliau, bingung dengan yang saya hadapi, saya pamit sambil mencium tangan beliau untuk pergi ke rumah sakit. Beliau juga langsung menelpon Dr. Setiawan, salah satu peserta Ashram juga, dan memintanya untuk menangani Hariri. Saya langsung berangkat ke rumah sakit dengan diantar oleh Oce dan Daeng. Diperjalanan saya dapat berkomunikasi dengan Dr. Setiawan dan dia meminta saya untuk langsung membawa Hariri ke RS Fatmawati karena dia bisa menangani langsung dan perlengkapan disana cukup lengkap. Selama perjalanan, entah dengan kecepatan berapa, Oce berusaha secepat mungkin untuk sampai ke Jakarta, saya bersenandung lagu yang diciptakan Guruji, ‘Berpalinglah padaNya’, terasa sangat membantu menghibur hati yang galau dan cemas menghadapi kondisi yang saya alami. Disamping itu ada rekan2 yang lain yang mengikuti dari belakang, yaitu Yudha&Ila, pak Yayan, Rudi, Wuntoro, Wito dan beberapa teman lain, membuat saya cukup merasa aman karena tahu ada orang yang menemani dan selalu siap membantu.

Sesampainya di rumah sakit, Hariri langsung ditangani di Unit Gawat Darurat dengan cepat karena ada Dr Setiawan disitu. Seharusnya Hariri masuk ICU, tapi karena penuh ia terpaksa dimasuki ke kamar dengan pengawasan. Hariri sempat kejang2 karena mengalami pendarahan diotak sebelah kanan yang cukup besar, hasil scanning menunjukkan demikian. Saya berusaha untuk selalu kuat pada saat didekat Hariri dan berusaha untuk selalu menenangkan dirinya disela-sela kesadarannya. Namun disaat lain bila kesedihan ini tidak dapat dibendung saya menangis meskipun sesaat karena saya harus kembali menemani Hariri. Setelah Hariri bisa memasuki kamar, kejang2nya masih terus berlanjut dan baru berhenti keesokkan paginya. Pukul 01.37 dini hari, Guruji kirim sms yang isinya : “Baru selesai berdoa untuk Hariri. Everything will be alright. Jangan khawatir, Allah Maha Membantu. Jaga kesehatanmu. Love and blessings – a.k.”. Saya merasa seperti diguyur air yang sangat menyejukkan ketika membacanya. Saya merasa begitu tenang karena saya tahu Guruji selalu menyertai kami dan menolong kami dari jauh. Teman2 sudah kembali pulang bahkan ada yang harus kembali ke One Earth karena besok masih ada tugas yang menanti, dan malam itu Demi yang ikut menunggui Hariri dirumah sakit.

Keesokkan paginya Hariri sudah mulai tenang tidak kejang2 lagi, ia diberi oksigen dan beberapa botol infus sekaligus dengan suntikan yang diberikan melalui jalur infusnya. Separuh badannya tidak dapat digerakkan dan ia lebih banyak tidur mungkin karena obat yang diberikan, namun ia dapat berkomunikasi dengan saya meskipun sangat terbatas. Beberapa teman Ashram datang sore harinya setelah memberi program untuk para guru di One Earth, dan juga beberapa teman lain yang tahu Hariri masuk rumah sakit, mereka memberikan dukungan moril yang berarti buat kami. Dan diatas segalanya, sumber kekuatan yang paling berharga buat kami adalah dukungan dari Guruji yang hampir setiap hari mengirim sms, bunyi salah satu diantaranyanya : “Dewi, fisik saya disini, tapi jiwa dan hati bersamamu. Saya dapat merasakan apa yang kau rasakan. Kita semua bersamamu. Love and blessings to you and Hariri, bisiki dia ‘Sri Krishna Arpanam’ (‘kuserahkan/kupersembahkan semua kepada Krishna’) , guru bersamamu’”. Saya hanya bisa menangis dan bersyukur membacanya, karena memang itu yang saya rasakan. Saya merasa bahwa beliau selalu ada didekat kami dan membantu kami. Beliau mengirimkan ‘healing water’ melalui Maya untuk diminum dan diusapkan di bagian tubuh Hariri yang lumpuh. Bahkan beliau telpon lagi saya untuk menanyakan keadaan Hariri dan memberi saya support yang luar biasa untuk menghadapi kondisi ini.Saya memang tidak bisa lagi menahan tangisan saya, mendengar suara Guruji. Beliau mengatakan: ‘menangislah sepuasmu, nanti kalau bertemu akan aku berikan tempat dibahuku untuk menampung tangisanmu. Rasanya beban yang menyesak didada berkurang setelah saya menangis ditelpon Guruji. Belakangan saya tahu dari cik Lini bahwa beliau setiap malam bermeditasi untuk memohon kepada Keberadaan atas kesembuhan Hariri. Dan beliau juga mengajak teman-teman untuk berdoa bersama di kelas.

Hari senin, Hariri mulai bisa menggerak-gerakkan jari tangannya, namun masih lebih banyak tidur. Oksigen sudah dilepas, namun infus dan suntikan tidak hentinya diberikan untuk mencegah dan mengobati pendarahannya. Saya bisikkan padanya ada kiriman ‘air’ dari Guruji dan juga doa singkat yang diberikan untuk membantunya. Lalu sejak itu pada saat ia merasa panas dan terbakar kepalanya, ia minta saya untuk mengusap kepala dan mukanya dengan air tersebut. Ia hanya bisa bilang ‘Wi…tolong air Bapak kasih dikepala saya..’ dan juga minta untuk diminumkan sambil membaca salah satu doa yang diajarkan di kelas Tantra. Demikian hari itu saya terus mengusap kepala dan tangannya sambil me- reiki seperti pesan Bapak yang disampaikan melalui cik Lini.

Hari selasa adalah jadwal re-scanning Hariri, dan Guruji Pak Krishna bersikeras untuk datang ke rumah sakit. Padahal sebelumnya beliau bilang tidak akan datang karena kondisi beliau yang belum pulih sementara kita semua tahu di rumah sakit banyak sekali virus. Beliau bersikeras untuk melihat langsung keadaan Hariri dan memberikan Hariri ‘abu suci’ dan memercikkan air suci di sekujur badan Hariri yang waktu itu dalam keadaan tertidur terus. Tidak ada kata-kata yang dapat saya sampaikan selain terima kasih dan bersimpuh dikaki Guruji untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya. Karena kami tahu kasih sayang seorang Guru yang begitu besarlah yang memaksa beliau untuk tetap datang meskipun kondisi beliau masih lemah. Guruji juga menyampaikan amplop berisi bantuan dari teman-teman dan keluarga besar Ashram untuk membantu pengobatan Hariri di rumah sakit. Rasa haru begitu kuat meliputi hati saya, bukan karena isi dari amplopnya tapi lebih dari itu saya betul2 merasa mempunyai keluarga besar di Ashram yang saling memberi perhatian satu sama lain terutama bila dalam kesusahan.

Setelah Pak Krishna pulang, sorenya Hariri terbangun dan ia bilang bahwa ia habis melakukan perjalanan ‘astral’. Ia cerita bahwa Guruji mengajaknya berjalan-jalan kebeberapa negara dengan menggunakan pesawat terbang, herannya dalam bepergian tersebut, ia tetap berada diatas ditempat tidur rumah sakit dan didorong2 oleh pembantu kami sementara saya ikut juga dibawah tempat tidur. Saya hanya tertawa dan tidak bertanya lebih jauh karena saya anggap Hariri hanya bermimpi. Belakangan saya tahu bahwa mungkin saja Hariri memang melakukan ‘perjalanan’ tersebut dengan Guruji karena Guruji selalu bermeditasi, memohon kepada Keberadaan untuk kesembuhannya (dalam hati saya menebak). Hanya Guruji yang tahu…….

Re-scanning baru bisa dilakukan Rabu pagi, karena alatnya rusak. Dan Alhamdullillah hasilnya baik, tidak ada pelebaran dari pendarahan diotaknya, bahkan ada beberapa bagian yang mengecil, bahkan ada juga yang menghilang. Puji Tuhan…..Alhamdullillah, karena bila pendarahannya melebar, kepala Hariri harus dioperasi. Saya memberitahu Guruji hasil re-scanning, dan beliau memerintahkan saya untuk membuat nasi kuning yang harus dibagikan pada gelandangan yang tinggal dibeberapa kolong jembatan atas nama Hariri sebagai rasa syukur. Hari itu ia sudah bisa menggerakkan kaki dan mengepalkan tangannya meskipun masih lemah. Bahkan keesokkan harinya ia sudah bisa mengangkat tangannya keatas dan dibawa kebelakang. Puji Tuhan…… begitu cepat perkembangan Hariri. Dan saya selalu melaporkan perkembangan tersebut kepada Guruji, karena kami tahu persis campur tangan Guruji atas kesembuhan Hariri . Keyakinan kami begitu kuat bahwa Guruji senantiasa menemani kami dan membantu Hariri sehingga semangat untuk sembuh selalu menyertai kami. Bahkan Dr Setiawan kaget dengan perkembangan Hariri yang begitu pesat, yang seharusnya dicapai dalam waktu minimal 7 bulan.

Hari berikutnya Hariri sudah bisa duduk dan bahkan meminta untuk diantar kekamar mandi untuk buang air besar, yang biasanya ia lakukan ditempat tidur. Bahkan ia pun sudah bisa berjalan meskipun tertatih-tatih dan harus dibantu. Saat ini Hariri sudah bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya yang sebelumnya lumpuh, meskipun belum dengan kekuatan yang sama seperti pada saat belum kena stroke. Hari Jum’at saya sudah bisa meninggalkan Hariri untuk datang ke One Earth, One Sky, One Humankind. Hari itu Guruji membahas tentang surat Yassin. Disana Guruji menceritakan bahwa dalam ‘blue print’ nya Hariri, ia memang harus mengalami stroke namun dalam usia 45 tahun, sedangkan saat ini usia Hariri baru 37 tahun. Jadi bila ia terserang sekarang, itu adalah keringanan yang diberikan Keberadaan kepada kami, karena serangan dibawah usia 40 tahun akan lebih mudah untuk ‘recovery’. Sekali lagi…..puji Tuhan..Alhamdullillah begitu banyak rahmat yang kami dapat. Namun saya juga merasa sedih dan terharu pada saat saya tahu bahwa dalam permohonan Guruji kepada Tuhan, untuk meringankan penderitaan Hariri, beliau juga mengambil alih sebagian sakit yang diderita Hariri agar Hariri lebih cepat sembuh. Dan ini terlihat dari tangan kiri beliau yang menjadi lemah. Saya menangis antara haru dan sedih. Haru karena perhatian Guru yang begitu besar kepada kami murid2 beliau, dan rasa syukur yang dalam karena saya mempunyai seorang Guru yang dikirim oleh Keberadaan, tempat saya berlindung dan memohon petunjuk atas setiap langkah yang saya ambil. Sedih, karena banyak sekali akibat dari perbuatan kami murid2 beliau yang harus diambil alih oleh beliau sebagai Guru yang kadang membuat beliau merasa sakit. Maafkan kami…Guruji…..begitu banyak yang kami ambil dari Mu Guruji…..tapi kami masih belum juga sadar dan tidak ada rasa terima kasih padaMu Bahkan kadang kesombongan kami yang terlalu besar, membutakan kami akan kebenaran nasehat dan petunjukMU. Guruji…..maafkan kami…
Hanya sembah sujud yang mampu kami berikan….. itupun..dilakukan kalau kami sedang diliputi ke‘sadar’an… Oleh karena itu….Guruji….berilah kami berkahMu selalu agar kami mampu senantiasa mempertahankan kesadaran kami…agar bisa selalu berjalan mengikuti Mu…

Sembah Sujud dan terima kasih kami yang sangat atas segalanya Guruji…

Terima kasih kami sampaikan juga untuk seluruh keluarga besar Ashram, saya merasa punya keluarga lain dan betul2 merasakan kebersamaan yang tulus disini.
Terima kasih juga untuk cik Lini, Shinta dan Maya yang selalu senantiasa menemani baik melalui sms maupun kehadirannya di rumah sakit. Dukungan kalian semua membawa kekuatan bagi kami untuk melewati semua ini. Dan terima kasih yang tertinggi untuk Guruji, berkat latihan yang diberikan di Ashram, wejangan, omelan, dan doa beliau, kami bisa melewati apapun yang dihadapi, meskipun kadang ada tangis, tapi kami tetap dapat ….tersenyum.

Sekali lagi terima kasih Guruji…………….