full screen background image

HUT Anand Ashram ke-13

“Menyemai Benih Damai dari Dalam Diri”

“Memaknai Kembali Bhineka Tunggal Ika”. Demikian sebuah tulisan yang terpampang di dinding Aula Assalam, One Earth Retreat Centre, di Bukit Pelangi Ciawi. Hari itu (Selasa, 14 Januari) Anand Ashram, padepokan spiritual yang didirikan oleh Anand Krishna, tepat berusia 13 tahun. Suka cita yang dirasakan keluarga besar Anand Ashram, tampaknya hendak dibagikan dan disebarluaskan dalam perayaan ulang tahun itu. Pertama, melalui sebuah simposium, dan juga melalui perayaan yang diwujudkan dalam gerak dan lagu, dengan tema yang sama, “memaknai kembali bhineka tunggal ika.” Sebagai puncak acaranya adalah, peluncuran otobiografi Anand Krishna dalam bahasa Inggris yang berjudul “Soul Quest: Journey from death to immortality.”

Hadir dalam simposium yang digelar lebih dulu sore itu adalah Romo Franz Magnis Suseno (Rohaniwan Katholik yang juga menjadi Guru Besar Filsafat luar biasa di Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara), AS Hikam (mantan Menristek di era Gus Dur yang kini aktif dalam DPP Partai Kebangkitan Bangsa), Oka Diputra (wakil dari DPP Walubi), Ida Bagus Supriadi (yang mewakili urusan agama Hindu Departemen Agama) serta Anand Krishna (Guru meditasi dan penulis buku-buku spiritual yang juga bertindak sebagai tuan rumah).

Dalam simposium ini, para pembicara kembali menegaskan komitmen mereka terhadap pentingnya mengapresiasi keberagaman, dan bukannya meruncingkan perbedaan. Oka Diputra, secara khusus, menyoroti fenomena perpindahan agama yang dianggapnya sebagai sumber konflik. Menurutnya, semua agama membawa kebenaran, karena itu tak perlu berpindah agama untuk menemukan kebenaran. “Kalaupun terlanjur pindah (agama), jangan mencela agama yang dulu dianutnya.”

Demi menciptakan kesalingpengertian, Ida Bagus Supriadi mengusulkan agar para pemuda dari berbagai latar belakang agama untuk melakukan “kerja bersama” secara kongkrit, terutama di bidang sosial. “Seperti yang terjadi ketika kami masih mahasiswa, dulu.”

Sementara itu, AS Hikam berpandangan bahwa kaum minoritas maupun mayoritas di Indonesia, sama-sama sulit mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. Oleh sebab itu, menurut Hikam, hak-hak ini semestinya dilindungi oleh negara. Dikatakannya pula bahwa komunitas yang beragam seperti yang ia lihat di Anand Ashram, semestinya dikembangkan ke seluruh Indonesia. “Saya pikir, tak ada tempat seperti ini di Indonesia. Ternyata saya menemukan di Anand Ashram,” ujarnya. Lebih lanjut, Hikam berpesan agar, gerakan spiritual seperti yang dijalankan di Anand Ashram harus berkembang dan mempengaruhi wilayah sosial-politik yang lebih luas.

Bagi Romo Magnis Suseno, sikap terbuka terhadap “pandangan yang lain” adalah kunci bagi terwujudnya kembali Bhineka Tunggal Ika. “Saya belajar banyak dari budaya Jawa yang tidak pernah ‘memutlakkan’ satu jalan. Dari situ, saya mulai mencintai agama-agama lain.” Dalam pandangannya, “tak mungkin kita dekat dengan Allah, kalau masih ada ‘kebencian’ pada orang lain.”

Sebagai pembicara terakhir, Anand Krishna mengingatkan bahwa perubahan haruslah dimulai dari diri sendiri. “Masalahnya, sebenarnya, tidak rumit. Kita sendirilah yang membuatnya rumit.” Ia pun menjelaskan tentang temuan-temuan modern di bidang ilmu pengetahuan, khususnya kloning, yang membuat manusia harus mengubah kembali pandangan mereka tentang Tuhan dan penciptaan. Intinya adalah, karena segala sesuatu berkembang, manusia pun harus berkembang.

“Dalam bidang medis, kini diketahui bahwa seorang bayi yang baru lahir, ternyata telah menyimpan memori tertentu.” Hal inilah, yang ia perkirakan sebagai apa yang disebut “dosa asal” dalam tradisi Kristiani. Adanya kenyataan tentang “pra-memori” ini menunjukkan bahwa manusia masih harus “memberdayakan dirinya”, harus melakukan “cleansing”, agar bisa menghilangkan potensi konflik dalam dirinya. Bila ‘damai’ di dalam diri telah dapat diwujudkan, barulah mungkin terjadi perdamaian di luar diri.

Pandangan ini ternyata juga didukung oleh dr. Setiawan, seorang ahli bedah saraf yang ikut memberikan ‘sharing’ dalam simposium itu. Menurutnya, dalam evolusi, manusia memang berada dalam fase transisi. “Manusia memerlukan ajaran-ajaran agama atau spiritualitas, untuk merangsang terjadinya evolusi dalam diri ke arah yang lebih beradab.” Intinya, manusia harus kembali ke dalam diri, melakukan introspeksi terus-menerus. Mayjen Aqlani dari Departemen Pertahanan menambahkan, “apa yang diajarkan dan dilaksanakan oleh Pak Krishna (Anand Krishna-ed.), yang mampu mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang agama di Anand Ashram, tak lain adalah upaya untuk menciptakan perdamaian di Indonesia.”

Simposium ini, juga diselingi oleh lagu-lagu perdamaian, antara lain “Salam Damai” dan “Assalammualaikum” yang dibawakan oleh kelompok Torchbearers yang juga terdiri dari anak-anak dari latar belakang yang beragam di bawah koordinasi Maya Pachner. Sebuah perpaduan yang indah. Sudah banyak yang ‘berbicara’ tentang perdamaian, tapi sungguh sedikit yang langsung menjalankannya, dalam lingkungan terkecil sekalipun. Semoga kita pun tak lagi cuma bicara, tapi mulai menyemainya dari dalam diri. ***

Perayaan dan Peluncuran “Soul Quest”, otobiografi Anand Krishna:
“Warna-Warni Perdamaian dari Bukit Pelangi”

Selasa malam itu (14 Januari 2003), sungguh penuh warna. Setelah sore harinya berlangsung sebuah simposium dengan tema “Memaknai Kembali Bhineka Tunggal Ika,” kini berlangsung pula sebuah perayaan dengan tema yang sama. It’s time to celebration!

Sebetulnya, warna-warni interior yang menghiasi Aula Assalam, tidak berubah sejak sore hari itu. Namun, menjelang malam, ketika lampu-lampu mulai dinyalakan, warna-warni itu seperti sedang ikut bersuka-ria menyambut perayaan ulang tahun Anand Ashram ke-13 serta peluncuran otobiografi Anand Krishna. Warna-warni itu bahkan tetap ‘menyala’ ketika lampu meredup menyambut tarian “Om”, tarian persembahan yang dibawakan oleh Maria Dharmaningsih, Tipuk dan Fay, yang diiringi oleh lantunan suara merdu Dian Mayasari.

Tarian itu langsung membuka persembahan gerak dan lagu yang dimainkan oleh anak-anak muda, The Torchbearers, di Anand Ashram. Adegan dimulai dengan gambaran kesukacitaan yang mewarnai mahluk di seantero bumi. Nino dan Ari, anggota Torchbearers yang juga kerap terlibat dalam pagelaran tari karya Guruh Soekarnoputra, tampaknya berhasil menyulap para anak muda Anand Ashram menjadi piawai dalam gerak tari modern.

Namun, kegembiraan ini terganggu oleh perpecahan yang disebabkan oleh pikiran manusia sendiri. Mulai terbentuk kelompok-kelompok. Kelompok yang satu menganggap bahwa agama-nyalah yang paling benar. Di luar agama itu, harus diperangi, dibom. Kelompok yang lain pun, demikian, merasa bahwa orang-orang di ‘luar’ sana harus diajak pindah ke agama mereka layaknya ‘domba-domba’ yang hilang. Pikiran mereka yang ‘kacau’, belakangan berwujud sebagai ‘setan’ (diperankan oleh Nino) yang terus memprovokasi terjadinya pertikaian.

Seorang tua, yang melambangkan kebijaksanaan (dimainkan dengan baik sekali oleh dramawan kawakan, Elsa Surya), berkali-kali datang memberi peringatan. Namun, ia tak digubris. Sampai ketika segala sesuatu nyaris tak tersisa, barulah ia didengarkan. Pada saat itu, “setan pikiran” pun berubah menjadi damai. Doa berbagai agama dibacakan secara bergantian — yang diikuti oleh seluruh peserta perayaan. Tak ada lagi konflik, karena manusia telah mencabut akar konflik dari dalam diri.

Sungguh persembahan yang luar biasa! Mereka yang terlibat, baik tua maupun muda, berhasil menyuguhkan sebuah pagelaran yang mampu menghidupkan suasana hati semua yang hadir pada saat itu. Ritmenya begitu terjaga, sehingga tanpa sadar satu jam telah terlewatkan.

Menyambung pagelaran itu, adalah acara yang ditunggu-tunggu: peluncuran otobiografi Anand Krishna, “Soul Quest.” Wandy S. Brata, dari penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, seusai menyerahkan secara simbolik buku tersebut pada Anand Krishna menyatakan penghargaannya terhadap Anand Krishna dan keluarga besar Anand Ashram. “Dengan menjadi editor buku-buku Anand Krishna, secara tidak langsung saya telah menjadi ‘murid’ beliau.”

V. Ram, pendiri sekolah Gandhi di Jakarta yang menjadi sahabat Anand Krishna selama puluhan tahun, dengan amat menyentuh menceritakan bagaimana ia menyaksikan perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam diri Anand Krishna. “Saya hadir ketika ia terbaring di rumah sakit, menghitung hari-harinya yang tersisa.” Yang menakjubkan dari diri Anand Krishna menurut V. Ram, adalah bahwa ia sanggup menerima apa saja yang menimpa dirinya. Sikap menerima itulah yang mengubah Anand Krishna. Ia juga merasa bangga karena Anand Krishna mampu menghasilkan begitu banyak karya setelah itu. “Otobiografinya (Anand Krishna-ed.) memang saya tunggu-tunggu, supaya kita bisa belajar bagaimana ia mampu menerima dan mengubah dirinya.”

Wandy Nicodemus, yang menganggap Anand Krishna sebagai Sang Murshid, ikut memberikan ulasannya terhadap “Soul Quest” yang dilahapnya kurang dari sehari semalam. Menurutnya, “Soul Quest” menggambarkan fase terpenting dari evolusi bathin Anand Krishna. “Kesabaran, keyakinan serta di atas segalanya adalah Cinta Kasih menjadi modal terpenting yang menyertai perjalanan Anand Krishna.” Ia bersyukur karena “diberi kesempatan mengambil bagian dari karya besar: One Earth, One Sky, One Humankind” yang menurutnya merupakan fase berikut perjalanan Anand Krishna yang belum tercakup dalam “Soul Quest”.

Anand Krishna sendiri menegaskan kembali apa yang telah disampaikan olehV. Ram, sahabatnya, bahwa penerimaan terhadap pengalaman hidup apapun bentuknya, adalah amat penting bagi perkembangan jiwa. “Jangan berhenti berkembang! Banyak orang yang sepertinya sangat sibuk dengan dirinya, tapi sebetulnya dia hanya berjalan di tempat.” Anand Krishna juga menyatakan bahwa “Soul Quest” adalah persembahannya “bagi kalian semua yang hadir di sini.” Ia berharap agar para pembaca buku itu bisa mengambil pelajaran dari pengalaman yang dilaluinya. “Nggak usah mempercayai semua yang saya katakan,” ujarnya yang disambut gelak tawa para hadirin. Secara khusus, Anand Krishna menyerahkan buku “Soul Quest” pada Rani, istrinya, yang disebutnya sebagai “istrinya yang terakhir” — “takkan ada istri lagi, meskipun saya harus lahir lagi,” ujarnya dengan
nada canda.

Di penghujung acara, giliran para sahabat yang memberikan persembahan pada Anand Krishna. Wayan Suriastini yang tinggal di Santa Monica, AS — meskipun tidak hadir di One Earth saat itu — mempersembahkan pengalamannya berjalan bersama Anand Krishna dalam bentuk buku berjudul “Ia Yang Menyalakan Pelita Kehidupanku.” Buku yang diterbitkan oleh PT One Earth Media itu bercerita tentang pengalaman penulisnya mengenal Anand Krishna dari dekat sebelum dan sesudah sembuh dari Leukemia di tahun 1991. Lalu, ada pula manuskrip buku yang berisi kumpulan puisi berjudul “Nyanyian Para Arjuna”, karya Agus Hendaru, Agung WB, Sulaiman, Elsa Surya dan kawan-kawan yang merupakan ungkapan rasa syukur para penulisnya pada “Sang Kresna”.

Sebuah pengalaman yang membahagiakan. Lantunan suara merdu Dian Mayasari pun kembali terdengar membawa pesan-pesan perdamaian. Setelah itu, semua peserta berdansa dan menari gembira (di antaranya terdapat penari dan pemain sinetron Nungki Kusumaastuti) dalam iringan musik-musik riang Maya Pachner dan kawan-kawan. Pesta kembang api melengkapi keragaman warna di Bukit Pelangi malam itu. Ah, betapa damainya.***