Kilas balik Pada hari Saptu tanggal 6 Mei 2006, dalam acara Temu Hati dengan Masyarakat Surakarta bersama Bapak Anand Krishna dengan tema “Mempertahankan Budaya Asal demi Integritas Bangsa” salah seorang Pengageng Keraton Surakarta, “Gusti Mung” datang menghadiri acara tersebut.

Janji audiensi

Pada suatu hari di bulan Desember, hanya bermodalkan sms mbak Wayan dan dengan berkah Guruji tentunya, “Gusti Mung” salah seorang Pengageng “Kunci” Keraton Surakarta Hadiningrat bersedia untuk menerima audiensi pengurus AKC dan NIM Surakarta. Selanjutnya, Minggu pagi tanggal 17 Desember 2006, atau Ahad Pon 26 Dzulhijjah 1827 H, beberapa pengurus AKC Surakarta dan NIM Surakarta dipimpin mbak Wayan Suriastini, mengadakan audiensi ke Keraton Surakarta. Pada kesempatan tersebut pengurus AK Center dan NIM menyampaikan rencana kegiatan di Candi Prambanan & Borobudur, rencana mengadakan Sufi Mehfil di Kraton Surakarta pada bulan Maret (yang beliu sambut gembira) dan kunjungan Sinuhun PB XII ke OE beberapa tahun yang lalu.

Pribadi pencinta budaya yang menarik tegas dan penuh semangat Mengantar rombongan ke tempat duduk, Gusti Mung meninggalkan beberapa penari dan gurunya yang sedang latihan menari di Keraton. Sesekali terdengar bunyi gamelan yang melembutkan suasana di Keraton yang luas dan anggun. Di samping tempat duduk Gusti Mung, ada sejilid naskah tentang Budi Pekerti yang oleh penyusunnya dimintakan kata pengantar dari Sinuwun ( Raja) Keraton Surakarta Hadiningrat. Sebelum sampai Sinuwun, Naskah tersebut perlu dipelajari Gusti Mung lebih dahulu. Selama dua setengah jam dengan tempo yang penuh semangat, suatu energi yang luar biasa dari Gusti Mung membuat rombongan turut merasakan vibrasi pemikiran beliau tentang Keraton dan budaya Nusantara. Materi Kuliah dan Audiensi yang Luar Biasa.

Penentang pandangan bahwa peninggalan masa lalu bersifat komoditi pariwisata belaka Sewaktu Gusti mung masih aktif di DPR RI Komisi VI, beliau menceritakan betapa gigihnya beliau menentang pendapat banyak anggota dewan yang berpikiran bahwa peninggalan budaya seperti Candi Prambanan dan Borobudur hanya dianggap sebagai komoditi pariwisata. Beberapa koleganya memberikan alasan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia saat ini tidak menganut agama yang sama dengan pembuat candi tersebut. Hal tersebut didasarkan dari pandangan “politis” mereka yang mengesampingkan bahwa kita semua mempunyai kaitan erat dengan budaya leluhur, nenek moyak kita. Dengan penuh semangat beliau menyatakan agar dibedakan antara agama dan budaya. Budaya kita seperti sebuah wadah yang kuat yang berakar dalam sehingga sanggup menerima agama apa saja. Budaya tersebut sudah ada sebelum agama-agama datang ke Nusantara.

Pelaksanaan ritual budaya keraton dan penerapan agama Gusti Mung memberikan beberapa contoh penerapan budaya dan agama secara bersama-sama. Ada Acara Ritual di Keraton Surakarta untuk memasak nasi untuk “Jumenengan”, acara besar di Keraton. Nasi dimasak menggunakan”Dandang” (alat memasak nasi) Kyai Sedudho. Segala macam beras dimasak, berasnya harus diperoleh dengan cara ditumbuk dengan “lesung” (alat tumbuk padi tradisional). Yang menyalakan api “Sinuwun” (Raja), dengan menggunakan”merang” (jerami). Selama menanak nasi, Dzikir “La illa ha Illalah” berkumandang terus menerus tidak boleh berhenti. Ini adalah penerapan budaya sekaligus agama. Ingatan kami kembali ke Guruji, vibrasi dzikir, mantra yang ditujukan kepada nasi mempunyai pengaruh yang luar biasa. Menumbuk padi memakai lesung menimbulkan irama yang akan mempengaruhi beras. “Lesung” dan “alu”(alat penumbuk padi) adalah simbol yoni dan lingga. Semuanya kembali kepada alam. Segala hal ritual mempunyai benang merah dengan faktual. Sebagai contoh lainnya, acara “sembah” kepada raja bukan untuk mengkultuskan raja, ini adalah bentuk hormat di tradisi Keraton, sedangkan doanya adalah kalimat “Tauhid” yang jelas-jelas mengikuti ajaran agama. Kembali teringat pada Guruji, sembah ini menunjukkan laku “bhakti”, yang keluar dari hati nurani menghormati “Dia” yang ada di dalam yang dihormati. Gusti Mung melanjutkan: “Kami melaksanakan ajaran agama, coba setelah sembahyang, baca Surat Al Fatihah 1.000 kali, nanti akan ketemu siapa? Yang menemui bukan dari luar Nusantara tetapi dari Jawa. Selanjutnya, secara tegas beliau mengatakan agama, spiritual tergantung dari pribadi kita kepada Yang Maha Kuasa, sedang budaya terkait dengan akar yang dalam dari segala tindakan kita dalam kehidupan yang sesuai dengan jati diri kita. Gus Dur dengan Nahdhatul Ulama menghargai Budaya Asal, Pimpinan Muhammadiyah sekarangpun mulai mengahargai Budaya Asal.

Usaha pihak luar untuk memecah-belah Keraton di Jawa. Gusti Mung sangat dekat dengan almarhum Sinuwun Pakubuwono XII, sering kali Ayahandanya mengajak berbicara berjam-jam sampai larut malam. Kadang-kadang malam dipanggil Sinuwun: ” Umur seket sing patang puluh tahun mung kanggo turu” ( jangan sampai berusia 50 tahun, yang 40 tahunnya hanya untuk tidur semata). Sehingga beliau banyak mendapatkan “penerangan” dari ayahandanya.
Ada hal yang sangat menyentuh, ketika beliau menjelaskan sejarah perkembangan Kerajaan Mataram dari Panembahan Senopati, Sultan Agung, sampai berdirinya Keraton Yogyakarta dan timbulnya Mangkunegaran. Semuanya tidak lepas dari ulah strategi “Kumpeni” yang memecah belah. Keberadaan Keraton semakin memprihatinkan setelah kemerdekaan RI. Beliau mencontohkan, untuk mendirikan Keraton itu tanahnya dengan membeli bukan mengambil. Untuk memelihara mesjid-mesjid di daerah, Raja juga membeli seluas tanah yang dipakai untuk memakmurkan mesjid. Untuk membiayai penyerangan VOC ke Batavia selama beberapa tahun, Sultan Agung membeli sawah di sepanjang perjalanan sebagai lumbung logistik. Aset tanah dibeli bukan diambil. Tetapi mengapa banyak aset yang diambil begitu saja? Kehidupan yang memprihatinkan di Keraton memuncak pada zaman Orde Baru, ketika sebagian kerabat bermaksud mendirikan hotel di Keraton. Kalau Keraton hanya dianggap milik keluarga raja dan asetnya diwaris oleh ahli warisnya, sudah jelas akhirnya keraton dengan berbagai maknanya akan punah. Selanjutnya, keraton tidak bisa lagi menjadi pengawal budaya Nusantara. Gusti Mung amat menentang pembuatan hotel tersebut, sehingga menerima hujatan dari berbagai pihak yang hanya memikirkan materi tanpa punya kepedulian pada budaya. Sampai sekarang pun, walau ada bagian Keraton yang dibuka untuk Pariwisata, tetap saja ada wilayah sakral untuk mempertahankan jati diri Keraton. Pihak yang tidak senang menjuluki beliau dengan “Putri Mbalelo”, tetapi almarhum Sinuwun dalam rapat keluarga besar mendukung Gusti Mung. Arwah para leluhur
mendukung pelestarian keraton sehingga walau bagaimana kuatnya pihak yang ingin mendirikan hotel akhirnya mentah juga. Ada rasa haru di wajah Gusti Mung, ketika menceritakan penolakan almarhum Sinuwun untuk pendirian hotel di Kraton. Ontran-ontran (peristiwa) raja kembar di keraton Surakarta, mungkin tidak dapat dilepas dari pihak luar yang beliau gambarkan seperti kumpeni yang memecah belah kerajan demi keuntungan materi.

Keyakinan kepada Penguasa Laut Selatan Sebagai gambaran, beberapa “sesepuh” di sekitar Solo banyak yang yakin ada beberapa penguasa dengan jajaran birokrasinya yang tidak kelihatan di “atas dunia” yang mempunyai pengaruh di dunia ini. Gusti Mung dan Keraton mempunyai keyakinan untuk pulau Jawa ada kaitannya dengan Ratu Penguasa Laut Selatan. Mengenai gempa di Jogya dan Klaten, Gusti Mung sedikit menceritakan pengalamannya. Dengan banyaknya musibah sebelumnya, ada sekelompok orang yang ingin mengadakan ritual keselamatan di pantai Jogyakarta. Sudah diingatkan beberapa kali, bahkan diminta menunda beberapa hari, karena hari Kamis berikutnya ada ritual keraton Mahisa Lawung. Tetapi acara tetap dilaksanakan pada Saptu (bagi keraton ada keyakinan acara besar jangan dilakukan pada hari Saptu). Yang juga tidak disetujui adalah adanya acara memotong kerbau. “Kanjeng Gusti Ratu Kidul bukan bangsa Brekasaan (makhluk liar) kenapa diberi kepala kerbau, padahal ada aturan-aturan tertentu untuk bahan ritual di Laut Selatan”. Apa yang bharus terjadi, terjadilah. Beberapa hari sebelum gempa melanda DIY dan Klaten, Gusti Mung ke Imogiri (makam keluarga Raja), duduk di makam leluhur terasa goyang-goyang, kemudian ada bisikan jelas “gempa”. Beberapa hari kemudian, ketika beliau kembali ke Imogiri ada lagi bisikan “setu-setu” (Saptu-Saptu). Teman beliau, seorang dosen ISI mau ke Jogya, dinasehatkan untuk jangan pergi hari Saptu itu. Dosen itulah yang pertama telepon, bersyukur selamat, karena menunda ke Jogyakarta pada hari Saptu tersebut.

Kekuatan spiritual kerajaan Gusti Mung dipercaya untuk mengelola Tari Bedoyo Ketawang, semacam tarian sakral diselenggarakan untuk acara besar di Kraton. Pengukuhan seorang raja tidak ada pamornya tanpa dilakukannya tarian sakral tersebut. Tarian itu penuh “pitutur luhur”, misalnya tari Srimpi ( Impian Sri/Raja) memuat nasehat tentang impian seorang Raja. Rasa Bhakti yang amat dalam terhadap Ayahanda, sangat mempengaruhi kehidupan Gusti Mung. Setiap kata Ayahandanya disimak dan dipahami dengan penuh rasa. Energi dari Pusat Penguasa Jawa sering dilupakan. Bagaimanapun, dahulu Presiden Pertama dan Presiden Kedua Indonesia, menggunakan beberapa”alat” dari Keraton. Energi tersebut pengaruhnya sangat besar.

Pemaksaan Keyakinan tidak baik Anggapan bahwa peninggalan nenek moyang yang kebetulan beragama lain dengan agama yang dianut mayoritas pada saat ini, sehingga memandangnya hanya sebagai komoditi pariwisata adalah kurang bijaksana. Masih banyak pengetahuan yang dapat kita gali, bukan tentang agamanya tetapi ilmu pengetahuan yang mendasarinya. Kita lupa bagian-bagian dari keraton masing-masing mempunyai makna. Kita lupa para Visvakarma leluhur kita yang menetapkan sebuah bangunan bukan sekedar bangunan, tetapi mempunyai makna yang dalam. Bagi yang mempelajari “feng shui” bagaimana meletakkan bangunan di pusat-pusat energi akan mempengaruhi keseluruhan. Haruskah ilmu-ilmu ini musnah karena ketidaktahuan kita? Segala sesuatu yang dipaksakan akan membuat jenuh. Bangunan ibadah yang menjamur, tetapi moral dan akhlaknya terjadi penurunan yang luar biasa, suatu kali akan membuat jenuh. Ada beberapa keyakinan masyarakat, “Besuk yen wis ono udan panggonan ibadah, tanda yen wis arep sirno”( Besok kalau sudah terjadi hujan tempat ibadah, merupakan tanda akan hilang). Mungkin karena jenuh, bete! Tempat ibadah yang baik adalah di hati. Buku-buku kita baca tapi kembali tanyakan pada hati. Titik berat tubuh, boleh di pusar, pusat energi boleh di pusar, titik berat pemikiran boleh di kepala, tetapi pusat aliran darah, pusat kehidupan rohani ada di tengah dada. Bhakta ada di dalam dada. Budaya kita mengatakan “hati-hati” bukan “pikir-pikir” walau sering bilang “waspada pada yang sejengkal di bawah dan di atas perut”.

Bangkitlah Indonesia, sudah waktunya bangkit.
Terima kasih
Triwidodo