full screen background image

Apakah Masa Lalu yang Menyakitkan bisa dihilangkan?

Masa lalu yang menyakitkan dan trauma yang pernah kita alami seringkali kita pendam. Kita mencari pelarian untuk melupakan hal-hal tersebut dengan cara mengkonsumsi narkoba, pergi ke diskotik, nonton film, makan yang banyak, berbelanja walaupun tidak butuh, nongkrong untuk menghabiskan waktu, melakukan kekerasan, sering marah-marah, dan bermain game. Cara-cara instan tersebut berhasil untuk sesaat. Tetapi di kala kita sendiri, mendengar sebuah lagu, menonton adegan suatu film, mengalami situasi tertentu, maka pengalaman-pengalaman menyakitkan itu muncul kembali. Celakanya, seringkali trauma tersebut muncul ketika kita ingin maju dalam berusaha, bekerja, berusaha, bersosialisasi sehingga kita kembali mundur dan takut untuk melangkah.

Pertanyaannya, apakah masa lalu tersebut bisa dihilangkan sama sekali?

Pernahkan Anda kebelet ingin buang Air Kecil?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, pernahkan Anda kebelet tak tertahankan ingin buang air  kecil? Pasti semua pernah mengalaminya. Saat Anda dalam kondisi tersebut, ketika ada seorang motivator kelas wahid memotivasi Anda untuk tenang, apakah akan berhasil? Atau ketika Guru Agama atau Guru Spiritual favorite menasehati Anda untuk merasakan kedamaian, apakah akan berhasil?

Pasti Anda setuju untuk menjawab, tidak…

Karena wadah badan ini sedang kebelet dan ingin segera dikeluarkan. Pikiran dan perasaan Anda tertuju pada penderitaan badan dan semua fokus untuk mencari solusi dan mencari toilet terdekat untuk kemudian dikeluarkan. Jadi sesuatu yang baik tidak akan bisa masuk ke dalam pikiran dan perasaan Anda bila badan (wadah) Anda menderita.

Seperti itulah yang terjadi, masa lalu yang menyakitkan dan trauma bila terus dipendam akan seperti orang yang terus menerus menahan buang air kecil. Pertama mungkin bisa ditahan, tetapi kalau semakin lama Anda pendam akan timbul stres, konflik di batin Anda, lama kelamaan akan menyebabkan depresi sampai timbul penyakit-penyakit lain. Ini karena ada sesuatu yang Anda pendam di pikiran dan perasaan Anda selama ini.

Bagaimana membuang trauma ?

Hal inipun terjadi 25 tahun yang lalu terhadap Bapak Anand Krishna , pendiri dari Yayasan Anand Ashram ketika sembuh secara misterius dari penyakit kanker darah (leukimia). Latihan-latihan Meditasi yang dirancang oleh Beliau benar-benar berdasarkan pengalaman, bukan hanya teori belaka. Salah satunya adalah teknik katarsis atau dikenal dengan upaya pembersihan dari sampah-sampah pikiran dan perasaan tersebut sehingga kita akan menjadi tenang dengan sendirinya.

Pengalaman seorang Psikolog, Dewi Juniarti, Psi juga demikian, kehilangan orang yang disayang menimbulkan trauma. Dengan latihan-latihan katarsis dan meditasi, trauma tersebut berangsur-angsur hilang dan kehidupannya kembali normal.

Pertanyaanya lagi adalah, apakah pengalaman masa lalu yang menyakitkan dan trauma dapat kita lupakan dan hilangkan sama sekali?

Jawabannya adalah tidak, karena ingatan itu tidak akan mungkin hilang, Tetapi efek dan akibat yang ditimbulkan dari ingatan itu bisa tidak lagi mempengaruhi kehidupan kita. Contoh pengalaman Ibu Dewi kehilangan orang yang disayangi menyebabkan beliau sering marah-marah dan timbul berbagai macam penyakit. Tetapi setelah melakukan latihan-latihan katarsis dan meditasi, kehidupannya kembali normal, emosi terkendali dan penyakit tidak lagi mengganggu.

Tetapi ingatan tentang kehilangan orang tersayang tidak pernah lupa, Ibu Dewi bahkan sekarang bisa menjadi fasilitator meditasi di Anand Ashram dan menceritakan pengalaman beliau ini tanpa ada sedikitpun gangguan yang berarti. Karena beliau sudah bisa menerima sehingga ia kemudian bisa melanjutkan hidupnya.

Latihan katarsis ini harus diberikan oleh fasilitator yang berpengalaman. Oleh karena itu bagi yang ingin mencicipi latihan katarsis dan meditasi, silahkan bisa klik di sini.

Anandam,

Catatan: Anandam adalah salam khas Yayasan Anand Ashram. Anand berarti Kebahagiaan yang bersumber dari dalam diri (bukan dari luar diri). Dengan mengucapkan salam ini, kita saling mengingatkan untuk terus melakukan perjalanan ke dalam diri, menemukan sumber kebahagiaan yang sudah ada di dalam diri. Take #InnerJourney.