Laporan Pak Triwidodo tentang pengalaman menghadiri Hut ke 17 Anand Ashram

Masihkah kita mengurung diri dalam comfort zone (Pengalaman peserta dari Surakarta menghadiri HUT Ashram ke 17, Januari 2007).

Luar Biasa… Dengan bekal Satsangh Joglosemar, kami dari Surakarta melihat penampilan role play yang memukau, film yang menggugah nurani, mutiara petuah Bapak Anand Krishna, yang semuanya berada dalam bingkai kasih Guruji, yang terungkap dalam acara HUT Ashram ke 17, Januari 2007.

Memperhatikan pikiran… Salah satu butir dari hasil Satsang Joglosemar adalah perlunya memperhatikan pikiran. Pikiran begitu cepat, begitu memikir New York pikiran sudah sampai di sana. Ibarat naik kendaraan bermerk pikiran, latihan meditasi sudah bisa memperlambatkannya, dan dalam keadaan lambat penumpang sudah mulai tenang. Selanjutnya, tiba giliran untuk memperhatikan kendaraan, mengemudikan secara hati-hati, tidak melanggar marka jalan, sehingga penumpang akan selamat dan merasa nyaman. Setelah terbiasa memperhatikan kendaraan, mengemudikan secara hati-hati, maka mengendarai dengan kecepatan tinggipun sudah tidak berbahaya lagi. Memperhatikan pikiran merupakan hal penting dalam meniti ke dalam diri.Bersama teman-teman Torch Bearer Surakarta, kami mempersiapkan diri untuk selalu emperhatikan pikiran, agar dapat reseptif dalam menghadiri acara
HUT Ashram di Ciawi.

Belum beranikah kita melangkah keluar dari “comfort zone” Teman sekamar kami di “Maria” membuka Newsletter edisi khusus, sehingga  terlihat kartun tentang seseorang didalam sangkar. Sangkar tersebut didobrak oleh sang guru, tetapi penghuninya mengeluh. Rupanya si penghuni merasa nyaman dalam sangkar. Apalagi setelah diluar sangkarnya dipasang foto sang guru, dia merasa sudah sangat happy, sudah dekat dengan Master. Guru datang untuk mengajak keluar dari sangkar, tetapi kita yang bebal ini masih merasa sangat nyaman dalam sangkar “comfort zone”. Terima kasih teman sekamarku, masih banyak mutiara yang kudapat dari temanku ini yang belum sempat kutuliskan dalam laporan ini.

Role play kebangsaan yang memukau Diawali tarian indah teman dari Bali, suasana HUT Ashram menjadi lebih hangat. Narator handal memulai pembicaraan dalam role-play. Sepasang muda-mudi gaul yang hedonis, ingin bepergian ke luar negeri. Salah satunya adalah putra pemilik perusahaan penerbangan yang takut naik pesawat terbang perusahaan ayahnya. Percakapan yang sarat makna tersebut diakhiri dengan “koma”nya si pemuda akibat kesalahan minum minuman yang disangka minuman keras. Dalam kondisi “near death experience” bertemulah pemuda itu dengan “angel” si pembimbingnya. Bersama si Pembimbing, pemuda tersebut melihat beberapa kejadian yang nyata-nyata terjadi di negaranya, mulai dari pemisahan masyarakat akibat KTP, banyaknya pengusaha tanpa patriotisme, wartawan pengharam amplop yang mau menerima uang asal tidak dimasukkan dalam amplop. Setelah melihat bhakti teman-teman Joglosemar dalam kegiatan PPSTK (Pusat Pemulihan Stress dan Trauma Keliling) akibat gempa di Jogyakarta, si pemuda sadar dan berjanji, setelah kembali ke dunia akan berbhakti pada ibu pertiwi. Film dokumenter yang menggugah kesadaran Negara tercinta Indonesia betul-betul dalam keadaan parah. Tangan-tangan bisnis asing “tak bernurani” mengendalikan perekonomian di dalam negeri. Buruh dan rakyat kecil seakan dihisap tenaganya tanpa imbalan yang berarti dibanding keuntungan yang didapat pengusaha “tak bernurani” tersebut. Keadaan tersebut memang membuat sebagian teman berputus asa, yang terungkap dari tanya jawab setelah pemutaran film selesai. Tetapi tidak semuanya, sebagian mengingatkan perlunya instropeksi diri, semuanya harus dimulai dari diri sendiri.

Dalam berbagai kesempatan, berkali-kali Guruji menyampaikan bahwa modal utama adalah keyakinan. Yang penting kita bersedia mengambil peran dan keberadaanlah yang akan bekerja melalui kita. Karya Tuhan. “Tangan hamba-Ku akan menjadi kepanjangan tangan-Ku, matanya adalah mata-Ku, pikirannya adalah pikiran-Ku”.

Seorang pengantin perempuan bersedia mengambil peran menjadi ibu, mempunyai anak dan dia melaksanakan hasratnya. Akan tetapi, begitu sel telurnya telah dibuahi, “alam” akan mengambil alih, perkembangan dari telur menjadi janin yang mempunyai embriyo anggota-anggota tubuh, adalah intervensi alam, urusan DNA dan ruh bukan urusan si ibu lagi. Krishna berkata : “Kalau kamu mendekati-Ku satu langkah, Aku akan mendekatimu seribu langkah”. Keberadaan akan membantu kita. Guruji menyampaikan : “Kita tidak mencari masa, “Look!” kitalah Indonesia”. “Source Energy kita akan jauh berbeda”. Menurut penafsiran kami, kalau kita bertindak di “luar” tindakan kita hanya merupakan tindakan seorang diantara 200 juta lebih orang Indonesia. Akan tetapi, kalau di Ashram kita mewakili Indonesia. Jelas, Source Energy kita jauh berbeda.

Petunjuk Guruji mengenai ketidak berdayaan pikiran Bumi ini berputar pada porosnya, dan juga berputar mengelilingi matahari. Matahari sendiri juga berputar, sehingga 6 milyar manusia, jutaan cacing dan kecoa, ratusan juta gedung-gedung juga ikut berputar. Akan tetapi kita tidak merasakan apa-apa, luar biasa. Di dalam pesawat, kita merasa seperti tidak bergerak padahal kecepatan pesawat 600/800 km/jam. Stephen Hawking menyampaikan bahwa dunia sedang berekspansi. Artinya pada suatu saat adalah satu massa yang kemudian meledak secara tiba-tiba, kepingan-kepingan berserakan, terjadi blackhole dan seterusnya. Bagaimanapun, ada saatnya kecerdasan pikiran tidak mampu lagi, tidak berdaya lagi. Menyerah. Dan terjadilah pencerahan.Murid-murid Buddha adalah pemikir yang handal,yang akhirnya bersujud, menyerah kepada Buddha, dan terjadilah pencerahan. Dewi Kunthi, menghadap Krishna: “Aku bukan orang pandai, tetapi aku percaya pada-Mu. Buatlah anak-anakku Pandawa dalam keadaan menderita, sehingga dapat dekat dengan-Mu. Dengan dekat dengan-Mu mereka akan selamat”. Yang pintar dan yang tidak pintar merasa tidak berdaya dan mencapai pencerahan. Yang mediocre, yang tanggung-tanggung itulah yang merasa mampu dan yang tidak tercerahkan. Itulah salah satu petuah Guruji 2 hari menjelang HUT ashram. Doa dalam semua agama mengandung makna penyerahan diri, pasrah. Show me the way; Tunjukilah kami jalan yang lurus; Jangan masukkan kami dalam percobaan; Diyoyonah prachodaya; Dharmam saranam gatchami. Pikiran, mind dapat memanipulasi, seakan-akan pencerahan datang seketika, tanpa melalui proses yang panjang. Krishnamurti berbicara seakan melupakan bimbingan sejak kecil oleh Annie Besant dan CW Leadbetter. Osho bisa mengatakan yang penting duduk santai, relaks, menunggu dan tiba-tiba datang pencerahan. Tetapi sebelumnya selama 15 tahun beliau sudah berkeliling India menemui guru-guru di sana. Apa yang kita dapatkan mempunyai kesinambungan dengan tindakan sebelumnya. Sejarah negara kita mempunyai kesinambungan dengan sejarah zaman dahulu. DNA kita kalau dirunut mempunyai kesinambungan dengan generasi yang dulu.

Kecintaan Guruji terhadap kita semua Semua pengalaman pada acara HUT Ashram, termasuk diterimanya “Anand Ashram” sebagai satu-satunya organisasi spiritual yang berpusat di negaranya sebagai anggota organisasi PBB, menunjukkan betapa besar KASIH” Guruji kepada kita semua. Sudah waktunya kita berintrospeksi, seberapa besar kasih kita pada Guruji. Kami ingat, pernah membaca di suatu artikel tentang Sai Baba. Seorang bhaktanya menanyakan perihal sakitnya beliau. Jawaban Sai Baba sangatlah penting. Beliau berkata, “Aku tidak menganggap diri-Ku semata-mata hanya badan jasmani ini saja. Aku bukanlah badan ini. Oleh sebab itu, Aku tidak menganggap bengkak atau komplain apapun juga dari badan ini – sebagai sesuatu yang serius amat. Pembengkakan ini tidak menjadi sumber penderitaan bagi-Ku karena Aku tidak mengidentifikasikan diri-Ku dengan badan jasmani ini. Pahamkah engkau? Aku bukanlah badan ini. Oleh karenanya, Aku sama sekali tidak merasakan sakit.” “Aku tidak akan pernah menyembuhkan diri-Ku. Aku akan menyembuhkan persoalan / penyakitmu. Tetapi Aku tidak menyembuhkan persoalan-Ku sendiri. Namun, sebagai tanggapan atas doa-doamu, sebagai jawaban terhadap harapanmu, Aku akan menyembuhkan diri-Ku; tetapi hal itu baru akan Ku-lakukan setelah doa-doamu dipanjatkan.” Demikianlah yang dikatakan oleh Sai Baba. Betapa penuh kasihnya bhakta Sai Baba terhadap gurunya. Sedangkan kita masih saja “menyakiti” Guru kita. Guruji bimbing kami semua, lepaskan kami dari sangkar comfort zone.

Triwidodo, Januari 2007.